Laman

Sabtu, 25 Februari 2012

Pemberontakan PKI di Madiun


        Pemberontakan PKI Tahun 1948 di Madiun

Tahun 1948 telah terjadi tragedi nasional, yaitu pemberontakan PKI. Pemberontakan PKI dipusatkan di Madiun. Bagaimana kronologi dan akibat-akibat yang ditimbulkan dari peristiwa tersebut ? Untuk menjawab pertanyaan ini coba pelajari uraian berikut.




             1.      Fase Awal Pemberontakan PKI Madiun

Pada saat bangsa Indonesia sedang berjuang menghadapi Belanda, Pada tahun 1948 PKI melancarkan pemberontakan di Madiun. Pemberontakan tersebut dipimpin oleh Amir Syarifuddin dan Musso. Amir Syarifuddin adalah mantan Perdana Menteri yang menandatangani perundingan Renville. Hasil perundingan Renville sangat merugikan Indonesia karena wilayah yang dimiliki semakin sempit. Selanjutnya, Amir Syarifuddin berbalik menjadi pemimpin oposisi terhadap Kabinet Hatta. Ia kemudian membentuk Front Demokrasi Rakyat (FDR) pada tanggal 28 Juni 1948.
Program FDR , antara lain :
a.       Menuntut dibubarkannya Kabinet Hatta
b.      Membentuk cabinet baru yang mengikutsertakan kekuatan FDR dan PKI
Semenjak kedatangan Musso dari Uni Soviet bersatulah kekuatan PKI dan FDR di bawah pimpinan Musso dan Amir Syarifuddin. Melalui pemikiran-pemikiran yang dibawa Musso, PKI mulai berencana melakukan pemberontakan.

               2.       Puncak Pemberontakan PKI Madiun

Gerakan PKI ini mencapai puncaknya pada tanggal 18 September 1948. PKI di bawah Musso dan Amir Syarifuddin melancarkan pemberontakan yang dipusatkan di Madiun dan sekitarnya. Musso dan Amir Syarifuddin kemudian memproklamasikan berdirinya negara Republik Soviet Indonesia. Susunan pemerintahan negara Republik Soviet Indonesia adalah sebagai berikut :
a.     Kepala Negara                                              : Musso
b.      Kepala pemerintahan                                    : Amir Syarifuddin
c.       Panglima angkatan perang                             : Kol. Joko Suyono

              3.     Akhir Pemberontakan PKI Madiun

Presiden Sukarno dan Perdana Menteri Moh. Hatta mengutuk keras tindakan PKI. Pemerintah segera melancarkan operasi penumpasan. Untuk itu, dibentuklah Gerakan Operasi Militer (GOM).Kemudian Kolonel Gatot Subroto ditunjuk sebagai Gubernur Militer Jawa Tengah dan Kolonel Sungkono sebagai Gubernur Militer Jawa Timur. Kedua militer itu diperintahkan untuk memimpin dan menggerakkan pasukan guna menumpas pemberontakan PKI di Madiun dan sekitarnya. Dengan operasi militer pada tanggal 30 September 1948, keadaan Madiun segera dapat dikendalikan oleh pemerintah Indonesia. Dalam operasi tersebut, Musso dapat ditembak mati di daerah Ponorogo dan Amir Syarifuddin ditangkap di daerah Purwadadi.